Ditolak di negeri sendiri, siswa asal SMAN 1 Purwokerto ini justru diterima di salah satu Universitas ternama di Singapura
Masih adanya praktek diskriminasi dalam dunia pendidikan di negeri ini, kelak bakal semakin banyak manusia2 cerdas Indonesia yang lebih memilih mengabdikan dirinya untuk negeri lain, karena tidak adanya rasa penghargaan, tidak ada sikap respek terhadap kecerdasan seseorang, dan tidak adanya rasa memiliki di negeri ini, yang ada hanya sifat tamak, angkuh dan korup.
Selasa, 05 Juli 2011 | 22:56 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta -Stephan Haniel, siswa yang baru lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas tahun ini bukan pelajar bernilai rata-rata di sekolahnya. Siswa menginjak usia 18 tahun ini bahkan berhasil menggondol medali perunggu dalam ajang Olimpiade Kimia Internasional di Jepang tahun lalu.
Tahun ini pun, ia kembali akan bertarung di ajang yang serupa untuk mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Namun, semburat kekecewaan terlihat di wajahnya saat Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal secara khusus melepas kepergian 5 tim olimpiade sains internasional di kantor Kementerian Pendidikan Nasional malam ini, Selasa 5 Juli 2011.
Dalam kesempatan ini, di ruangan pertemuan menteri, Stephan mengeluarkan keluh kesahnya. Ia mengaku kecewa atas janji pemerintah yang diberikan khusus kepada anak-anak yang meraih prestasi di ajang bergengsi. "Kami kecewa, sudah diberi janji beasiswa dan diberi kemudahan masuk kuliah jurusan manapun yang saya mau tapi tetap tidak masuk,"ujarnya.
Permasalahan yang dialami Stephan yakni tidak diterima di Universitas Negeri di Indonesia melalui jalur undangan. Padahal jika bertolak dari Instruksi Presiden di tahun 2008, siswa yang meraih medali diberikan kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dengan beasiswa.
Ditolak di negeri sendiri, siswa asal SMAN 1 Purwokerto ini justru diterima di salah satu Universitas ternama di Singapura. "Tidak dengan syarat-syarat yang ribet, tinggal masuk saja," kata Stephen. Akan tetapi kendala yang dialaminya tidak berhenti begitu saja. Oleh universitas tempat ia diterima mengharuskannya untuk segera membayar biaya segala macam. "Tapi beasiswa dari sini (pemerintah) baru turun tahun depan," tuturnya. Ternyata, tidak hanya Stephan yang mengalami nasib serupa. Stephan membeberkan kejadian yang dialami sesama peserta olimpiade internasional yang mengalami keterlambatan pencairan uang beasiswa hingga tidak diterima di perguruan tinggi negeri."Ada teman yang juga dapat medali tapi tidak diterima SNMPTN undangan karena dia bukan dari sekolah favorit, (WTF..???)" tukasnya. Anugerah Erlaut, mahasiswa tingkat dua di Nanyang Technology University Singapura contohnya. Ia berhasil meraih medali perak dan emas di olimpiade Biologi Internasional berturut-turut di tahun 2008-2009. Ia mengeluhkan lambatnya biaya beasiswa yang turun. Padahal di bulan September semestinya uang bayaran sudah harus disetornya. "Dan saya ke sana karena adanya kemudahan, tidak susah seperti teman di dalam negeri," kata Anugerah saat ditemui di kesempatan yang sama. Dalam pertemuan kali ini, Stephen dan Anugrah pun mengharapkan agar pemerintah dapat dengan segera menurunkan uang beasiswa yang diterimanya. "Padahal tadi katanya kita mewakili 240 juta penduduk Indonesia, tapi gimana nasibnya kalau kami yang sudah bawa nama bangsa tapi di drop out karena tidak bisa membayar,"pungkas Stephen.
Sumber : tempointeraktif

0 komentar:
Posting Komentar